
Antisipasi Dampak Perubahan Iklim dan Iklim Ekstrem El Nino terhadap Pertanian di Kalimantan Barat
Dalam upaya menjaga keamanan pangan nasional serta kesiapan menghadapi dampak El Nino, BSIP Tanaman Pangan sebagai Tim Supervisi dan Pendampingan Pelaksanaan Program Kegiatan Utama Kementerian Pertanian melaksanakan Rapat Koordinasi Pencapaian Target Luas Tanam Pajale serta Antisipasi Dampak Perubahan Iklim dan Iklim Ekstrem El Nino terhadap Pertanian di wilayah Kalimantan Barat yang digelar di BSIP Kalimantan Barat, Jumat (21/07). Rapat dipimpin oleh Kepala BSIP Tanaman Pangan Dr. Ir. Priatna Sasmita MSi tersebut dan dihadiri oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalbar, Dinas TPH di 14 Kabupaten/Kota Kalimantan Barat serta Tim Supervisi Wilayah Kabupaten/Kota BSIP Kalbar.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BSIP Tanaman Pangan menyampaikan bahwa El Nino pada sektor pertanian dapat memberi dampak kekeringan, gangguan musim tanam, penyakit dan hama, penurunan kualitas tanaman, dan ketidakstabilan pasar. Alhasil, dampak ini pasti akan memengaruhi kesejahteraan petani. Sehingga, upaya antisipasi yang dapat dilakukan adalah melalui percepatan tanam, peningkatan ketersediaan air (perbaikan embung/rehabilitasi jaringan irigasi tersier), program tanam 1000 ha, serta penyiapan lumbung pangan sampai tingkat desa.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat Ir. Florentinus Anum, MSi, mengatakan bahwa puncak El Nino di Kalimantan Barat diperkirakan akan terjadi pada Agustus mendatang. Sebagai upaya antisipasi, telah dilakukan melalui koordinasi dan kunjungan lapang di Kabupaten/Kota serta penyerahan bantuan benih bersertifikat. Selain itu, ia menambahkan bahwa berdasarkan data LTT, capaian luas tanam padi periode Oktober-Juni 22/23 terhadap Oktober-Juni 21/22 masih ada selisih sekitar 13,84%. Hal ini menjadi catatan agar dapat mengejar capaian LTT di beberapa wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat.
Di sisi lain, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kalimantan Barat, Luhur Tri Prayitno, SP, M.Ling, menjelaskan tentang perubahan iklim dan dampak El Nino di Kalimantan Barat. Menurutnya, update indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) awal Juli sebesar +0.94 (El Nino level lemah) dan diprediksi bahwa El Nino akan terjadi dengan level lemah hingga moderat pada semester II 2023. Lebih dari itu, ia menambahkan bahwa dampak El Nino terhadap curah hujan yaitu pengurangan curah hujan periode Juni-November dan penambahan curah hujan pada bulan Desember-Mei.
Melalui koordinasi dan kolaborasi ini, diharapkan dapat menjadi modal agar keamanan pangan di Kalimantan Barat tetap terjaga saat menghadapi El Nino yang akan datang. Seperti diketahui, El Nino merupakan fenomena iklim yang menyebabkan perubahan pola cuaca pada musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang dari biasanya pada daerah-daerah tertentu. Di sektor pertanian, El Nino dapat menjadi momok bagi petani karena dapat mengganggu pola tanam yang berdampak pada produksi pertanian. (BP/HRY)